Rabu, 20 Maret 2013

Hirohito (Japan)



Hirohito dilahirkan di Puri AoyamaTokyo pada tanggal 29 April 1901. anak pertama dari Kaisar Yoshihito (Taisho) dan Ratu Sadako (Teimei), dan kakak dari Pangeran Yasuhito Chichibu (1903-1953), Pangeran Nobuhito Takamatsu(1905-1987) serta Pangeran Takahito Mikasa (1915- ). Sebelum naik takhta ia dikenal sebagai Pangeran Michi (Michi-no-Miya). Masa kekuasaannya sebagai kaisar dikenal sebagai era Showa yang berarti damai, cerah budi. Namun ironisnya, justru pada saat itu, Jepang terlibat perang melawan RRC dan akhirnya dalam Perang Dunia II. Di Indonesia, ketika masa pendudukan Jepang (1942-1945) Hirohito dikenal sebagai Tenno Heika yang berarti "Yang Mulia Kaisar".
Hirohito mengenyam pendidikan awal di Gakushuin Peer's School dari April 1908 hingga April 1914, kemudian mendapatkan pendidikan khusus untuk putra mahkota (Togu-gogakumonsho) di Istana Akasaka dari tahun 1914 sampai Februari 1921. Mendapatkan karier sebagai letnan and sub-lieutnant (1st class) 9 Desember1912 pada Angkatan Darat Kekaisaran, kapten dan letnan (31 Oktober 1916, mayor dan wakil komandan (31 Oktober 1920)letnan kolonel dan komandan (31 oktober1923) dan kolonel dan komandan Angkatan Laut Kekasairan (Kaigun) (31 Oktober 1924). Ia diangkat menjadi putra mahkota secara resmi pada tanggal 16 November 1916. Pada tahun 1922 ia mengadakan kunjungan ke Inggris dan sejumlah negara negara Eropa. Kunjungan ini dianggap kelompok sayap kanan kontroversial sehingga menewaskan Perdana Menteri Hamaguchi.
Hirohito memiliki pengetahuan tentang penelitian biologi laut dan beberapa hasil penelitiannya dituangkan dalam sejumlah buku di antaranya The Opisthobranchia of Sagami Bay dan Some Hydrozoans of the Amakusa Islands.
Hirohito menikah dengan Putri Nagako, putri sulung Pangeran Kuniyoshi pada tanggal 26 Januari1924 dan dikaruniai 7 orang anak, Putri Teru Shigeko (1925-1961, Putri Hisa Sichiko(1927-1928), Putri Take Kazuko (1929-1989), Putri Yori Atsuko(1931- ), Pangeran Akihito (1933- ), PangeranHitachi Masahito (1935 - ), Putri Suga Takako (1939 - ).
Ia dinobatkan menjadi kaisar pada tanggal 25 Desember 1926 setelah ayahnya Kaisar Taisho meninggal, dilantik secara resmi 10 November1928, diKyoto.
Masa bertakhta
Pada masa ia bertakhta, Hirohito menyaksikan pertentangan di dalam negeri dan peperangan yang diawali dengan kericuhan di dalam negeri akibat pertentangan antara kelompok moderat dengan golongan kanan ultranasionalis yang disokong militer khususnya Angkatan Darat sebagai kekuatan terbesar pada saat itu. Akibatnya sejumlah pejabat tinggi, pengusaha dan tokoh-tokoh penting negara terbunuh dan puncaknya adalah insiden militer 26 Februari 1936, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Saburo Aizawa serta 1500 prajurit. Peristiwa ini juga melibatkan pangeran Yashuhito Chichibusehingga Kaisar Hirohito sendiri turun tangan dan memerintahkan pasukan Angkatan Bersenjata kekaisaran untuk menyelesaikan hal ini dan memastikan loyalitas dari seluruh keluarga kekaisaran. Meskipun demikian diam-diam insiden ini "direstui" oleh kalangan pimpinan Angkatan Darat terutama dari kalangan ultranasionalis. Oleh karena itu pada tahun 1930, klik ultranasionalis dan militer menguasai pimpinan pemerintahan.
Akhirnya, pada masa kekaisaran Hirohito Jepang tercatat terlibat peperangan di antaranya Insiden Manchuria 1931Insiden Nanking 1937, danPerang Dunia II dengan melancarkan serangan atas Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour 9 Desember 1941.
Hari Yang Terpanjang dan Akhir Perang
Menjelang akhir perang (1945), Jepang sudah praktis kalah perang. Angkatan Lautnya bisa dikatakan hampir habis dan Angkatan Daratnya kewalahan. Namun pihak Angkatan Darat masih ingin melanjutkan peperangan. Rapat 6 Besar (Angkatan Darat Jendral Umezu,Angkatan Laut Admiral Toyoda, Kementrian Peperangan Jendral Korechika Anami, Menteri Luar Negeri Shinegori Togo, Perdana Menteri Suzuki Kantaro, Kementrian Angkatan Laut Admiral Yonai Mitsumasa) macet. Muncul pula ancaman pemberontakan komunis yang dikhawatirkan beberapa pejabat teras kekaisaran. Lambannya penanganan masalah ini ditambah dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima (6 Agustus 1945), Nagasaki (9 Agustus 1945) serta pernyataan perang Uni Soviet (yang sebelumnya netral karena perjanjian Molotov-Matsuoka dengan batas akhir April 1946) sesaat setelah dijatuhkannya bom atom di Nagasaki, membuat Kaisar memerintahkan untuk menghentikan peperangan pada konfrensi 6 Besar yang dikatakan pada tanggal 10 Agustus 1945:
"Meneruskan peperangan hanya akan menambah kesengsaraan rakyat Jepang, kondisi negara tidak akan mampu untuk bertahan cukup lama dan kemampuan mempertahankan persisir pantai saja sudah diragukan. Sangat sulit melihat tentara yang setia dilucuti ..tetapi saatnya untuk menanggung apa yang tidak tertanggungkan. Saya menyetujui proposal untuk menerima proklamasi Sekutu (Potsdam) yang garis besarnya ada di menteri luar negeri"
Karena desakan kaisar inilah akhirnya Jepang menyatakan menyerah pada tanggal 14 Agustus 1945.
[sunting]Kaisar setelah perang
Setelah Perang Asia (Dai Toa Senso) selesai, banyak desakan agar kaisar Hirohito diadili sebagai penjahat perang. Ada banyak keterangan kontroversial mengenai keterlibatannya dalam perang baik sebelum maupun pada saat Perang Dunia II. Di antaranya adalah David Bergammi dalam bukunya Japan Imperial Conspiracy yang mengatakan bahwa kaisar terlibat dalam perencanaan perang. Namun banyak pula yang tidak setuju dengan alasan bahwa dia hanyalah sebagai simbol dan pemimpin agama sebagaimana kaisar-kaisar periode sebelumnya Shogun sekalipun pada saat itu berkedudukan sebagai komando tertinggi.
Menteri Peperangan Amerika Serikat Henry Stimson mengatakan "Tidak menurunkan kaisar Jepang dari takhtanya akan memudahkan proses penyerahan dan menghindarkan peperangan yang dapat merugikan khususnya pasukan pendudukan, yang kita lakukan terhadap Kaisar Jerman pasca Perang Dunia I sehingga publik menganggap kaisar Jerman adalah musuh, setan (devil), mengakibatkan kekosongan kekuasan dan tata pemerintahaan di wilayah itu sehingga memunculkan Adolf Hitler".
Sekalipun banyak desakan dari berbagai pemimpin dunia agar Kaisar Hirohito diadili, termasuk diantaranya Presiden Amerika Serikat Harry S Truman meskipun akhirnya Presiden Trumman setuju untuk mempertahankan kedudukan kaisar. Panglima pendudukan, Jendral Douglas McArthur juga tetap menempatkan Hirohito pada tahtanya sebagai simbol dan memperlancar pembangunan kembali Jepang dan simbol keterpaduan Kaisar dengan rakyatnya terutama pada masa pendudukan. Kedudukan Kaisar pada takhtanya didasarkan pada konstitusi baru yang diterapkan 3 Mei 1947 yang dinamakan Konstitusi Jepang 1947 atau konstitusi pasca perang yang menetapkan kaisar sebagai lambang atau simbol dan kepala negara sebagaimana kerajaanatau monarki konstitusional. Konstitusi ini menggantikan Konstitusi Jepang 1889 pada era Meiji dimana kaisar sebagai pemegang komando dan kekuasaan tertinggi.
Kaisar Hirohito menyaksikan kemajuan pembangunan Jepang pasca-perang. Ia mengunjungi kembali beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat dan bertemu Presiden Richard Nixon pada tahun 1971.
Wafatnya
Kaisar Hirohito meninggal pada tanggal 7 Januari 1989 akibat penyakit kanker usus dua belas jari (duodenum) yang dideritanya. Pemakaman kenegaraannya dihadiri oleh para pemimpin dunia di antaranya Presiden Amerika Serikat George Bush, Presiden Perancis Francois MitterandHRH Duke of Edinburgh dari Inggris, dan Raja HM Baudouin dari Belgia, pada tanggal 24 Februari 1989. Jenazahnya dimakamkan di Mausoleum Kekaisaran Musashino, di samping makam Kaisar Taisho. Kedudukannya digantikan oleh Putra Mahkota Akihito.

Seungman Rhee (South Korea)


Kehidupan

[sunting]Masa Kecil

Syngman Rhee lahir pada tanggal 26 Maret 1875 dalam sebuah keluarga pedesaan cara sederhana dalam HwanghaeKerajaan Korea. Rhee adalah anak bungsu dari lima bersaudara, meskipun kakaknya meninggal prematur. Keluarga Rhee ditelusuri garis keturunan kembali ke Raja Taejong dari Joseon. Ketika Rhee berusia dua tahun, keluarganya pindah ke SeoulKorea Selatan. Pendidikan awal yang terlibat terutama klasik Litertur Cina, meskipun ia mencoba ujian pegawai negeri sipil, ia gagal mereka beberapa kali. Ketika reformasi menghapuskan sistem tradisional pendidikan, Rhee terdaftar di Sekolah Paejae, sebuah lembaga yang telah didirikan oleh seorang misionaris dari Amerika Serikat. Rhee belajar Inggris dan mulai surat kabar sekolah, Maeil Sinmun.

[sunting]Karier kepresidenan

Pada 1910, dia kembali ke Korea, yang saat ini masih dalam masa kolonial Jepang. Aktivitas politiknya tak disukai militer Jepang dan ia pergi ke Tiongkok pada tahun 1912. Pada 1919, semua faksi utama pro-kemerdekaan membentuk Pemerintahan Sementara (Pemerintahan Provisional) diShanghai. Rhee terpilih menjadi presiden, ia memimpin selama enam tahun, sampai tahun 1925 ketika dia didakwa oleh Majelis Pemerintahan Sementara karena melakukan penyalahgunaan otoritas.
Syngman Rhee menghadiahkan medali pada Laksamana Ralph A. Ofstiedari Angkatan Laut AS pada masaPerang Korea tahun 1952.
Setelah Korea merdeka dari Jepang, Rhee kembali ke Seoul mendahului para pejuang kemerdekaan lain, sebab hanya ia yang paling dikenal dekat dengan Sekutu. Pada 1945, ia terpilih sebagai kepala pemerintah Korea.
Dalam masa kekuasaannya, secara diam-diam, Rhee melakukan kampanye untuk "menghapus Komunisme" yang sebenarnya adalah rencana untuk menyingkirkan semua potensi oposisi.
Rhee memenangkan kursi Majelis Pertama Korea Selatan pada 10 Mei 1948 oleh pemilihan parlemen setelah partai sayap kiri memboikot pemilu. Setelah terpilih sebagai Pembicara dari Majelis Konstituante pada 31 Mei, Rhee terpilih sebagai presiden pertama Korea Selatan, mengalahkan Kim Koo, Presiden terakhir dari Pemerintahan Sementara dengan hitungan 182-13 pada tanggal 20 Juli 1948. Perlu dicatat bahwa Kim Koo tidak menyadari pencalonannya sebagai presiden; nominasi ini adalah upaya untuk mendiskreditkannya yang merupakan nasionalis.
Pada tanggal 15 Agustus 1948, ia secara resmi mengambil alih kekuasaan militer Amerika Serikat dan kedaulatan de jure atas rakyat Korea dari Pemerintahan Provisional.
Sebagai presiden, Rhee dikenal memerintah dengan kekuasaan kediktatoran bahkan sebelum Perang Korea di tahun 1950. Ia mememerintahkan tentara sekuritas internalnya (dikepalai tangan kanannya, Kim Chang-ryong) untuk menangkap dan menyiksa agen yang diduga komunis dari Korea Utara. Pemerintahannya juga pernah melakukan beberapa pembantaian, yang paling besar salah satunya adalah Pembantaian Pulau Jejudikarenakan pemberontakan oleh golongan sayap kiri.
Rhee lebih jauh merusak reputasinya dengan memerintahkan warga kota Seoul untuk tetap tinggal di kota, sementara dia sendiri mengungsi ketika perang terjadi. Keputusannya memotong jembatan di Sungai Han menyebabkan ribuan masyarakat kota tidak bisa lolos dari serbuan pihak komunis. PBB dan Korea Selatan kembali berperang dan mendorong tentara Korea Utara menyingkir ke arah utara Sungai Yalu (lalu mundur ke sekitar DMZ karena Cina membantu Korea Utara melakukan serangan balasan). Sementara, Rhee mulai tidak disukai para pengikutnya karena menolak untuk menyetujui gencatan senjata dalam perang yang menyebabkan terbaginya Korea. Berharap untuk menjadi pemimpin Korea yang bersatu, dengan bantuan PBB, ia memveto setiap rencana perdamaian yang ternyata gagal untuk merangkul pemerintahan Korea Utara.
Ia juga memulai usaha anti-Cina dan sering menyatakan kekecewaannya pada AS yang enggan untuk berkonfrontasi dengan Cina.
Setelah Perang Korea dan akhir rezimnya, dia merumahkan janda permaisuri Ratu Yun dari Kaisar Sunjeong (dari Kekaisaran Korea) di Bangunan Suin, sebuah rumah kecil dan tidak pantas di Jeongneung, Seoul karena takut akan kekuasaan Ratu yang masih dihormati sebagian besar rakyat Korea, dan ia juga berusaha mengklaim bahwa ia masih berhubungan darah dengan keluarga kerajaan Yi.

[sunting]Akhir jabatan

Pada 1960, Rhee kembali menduduki kursi presiden yang keempat dengan memenangkan 90% suara. Kemenangan besar ini terjadi setelah calon presiden dari partai oposisi utama, Cho Byeong-ok, tiba-tiba meninggal dunia sebelum Pilpres tanggal 15 Maret .
Namun demikian Rhee memutuskan untuk menunjuk anak didiknya, Lee Gibung sebagai Wakil Presiden independen - bagian pemerintahan yang terpisah pada waktu itu.
Tetapi ketika Lee, yang bersaing dengan Chang Myon, mantan duta besar Amerika Serikat selama Perang Korea, memenangkan pemilihan wapres dengan suara yang terlalu besar, pihak oposisi mencurigai telah terjadinya kecurangan. Hal ini memicu kemarahan dari berbagai kalangan rakyat Korea. Massa melakukan demonstrasi untuk menuntut Rhee mundur pada tanggal 26 April 1960, namun mereka ditembaki oleh militer.
Pada hari yang sama, masyarakat dikejutkan dengan insiden pembunuhan sekeluarga Wapres terpilih Lee Gibung oleh putra keduanya (juga putra adopsi Rhee).
Pada tanggal 28 April 1960, DP-4 milik Central Intelligence Agency Amerika Serikat - yang dioperasikan oleh Civil Air Transport - mengungsikan Rhee dari Korea setelah demonstran menduduki istana presiden, Blue House. Kemudian diungkapkan oleh Kim Yong Kap, Deputi Menteri Keuangan, bahwa pada masa rezimnya Rhee telah menggelapkan lebih dari $ 20 juta dana pemerintah. Mantan Presiden Rhee, istrinya Franziska Donner (berasal dari Austria), dan anak adopsinya tinggal dalam pengasingan di HonoluluHawaii.
Pada tanggal 19 Juli 1965, Rhee meninggal dunia di Hawaii akibat stroke. Jasadnya dikembalikan ke Korea dan dimakamkan di Pemakaman Nasional di Seoul pada tanggal 27 Juli tahun yang sama.

[sunting]Warisan

Rezim Rhee dianggap sangat kontroversial. Secara umum, di kalangan konservatif menganggap Rhee sebagai pahlawan bangsa, sedangkan kaum liberal cenderung kritis terhadapnya.
Kediaman Rhee di IhwajangSeoul, saat ini digunakan sebagai museum memorial presiden , dan Woo-Nam Presidential Preservation Foundation juga didirikan untuk memberikan pengormatan baginya.

Luiz Inácio Lula da Silva (Brazil)

Luiz Inácio Lula da Silva.jpg

Biografi

Lula dilahirkan di distrik Caetés dari kota Garanhuns di negara bagian Pernambuco, Brasil, dalam dari sebuah keluarga petani miskin dan buta huruf. Tanggal lahirnya dicatat 6 Oktober 1945, namun ia lebih suka menggunakan tanggal yang diingat ibunya sebagai tanggal kelahirannya, yaitu 27 Oktober. Di Brasil sering terjadi kekacauan pencatatan kelahiran di provinsi-provinsi pedesaan.
Segera setelah kelahiran Lula, ayahnya pindah ke kota pantai Guarujá (di negara bagian São Paulo). Ibunda Lula dan kedelapan anaknya bergabung dengan ayah mereka pada 1952, menempuh perjalanan selama 13 hari di sebuah truk bak terbuka. Meskipun kondisi hidup mereka lebih baik daripada waktu di Pernambuco, hidup mereka masih sangat sulit.
Lula tidak banyak mendapatkan pendidikan formal. Ia berhenti setelah kelas 4 SD. Kehidupan profesionalnya dimulai pada usia 12 tahun sebagai seorang tukang semir sepatu, penjual kacang, dan tepung tapioka. Dia juga sempat menjadi pedagang keliling. Pada usia 14 tahun ia mendapatkan pekerjaan resminya yang pertama di sebuah pabrik baja. Lula akhirnya belajar dan memperoleh ijazah penyetaraan SMA.
Pada 1956, keluarganya pindah ke kota São Paulo, yang menawarkan kesempatan yang lebih besar. Lula, ibunya, dan ketujuh saudara kandungnya hidup di sebuah kamar yang sempit, di belakang sebuah bar.
Pada usia 19 tahun, ia kehilangan sebuah jarinya dalam sebuah kecelakaan sementara ia menggunakan sebuah mesin pengempa di sebuah pabrikonderdil mobil. Sekitar waktu itu ia mulai terlibat dalam kegiatna-kegiatan serikat buruh dan menduduki jabatan-jabatan penting di organisasi itu.
Pemerintahan diktatur sayap kanan Brasil menekan keras kegiatan-kegiatan serikat buruh dan akibatnya, pandangan-pandangan Lula semakin bergeser ke kiri.
Pada 1966 ia menikah dengan Maria de Lourdes, yang meninggal bersama anak laki-laki mereka ketika sedang melahirkan. Pada 1974 ia menikah kembali dengan Marisa, dan mereka dikaruniai tiga orang anak lelaki.
Pada 1978 ia diangkat sebagai presiden Serikat Buruh Baja dari São Bernardo do Campo dan Diadema, pusat industri praktis dari semua fasilitas manufaktor mobil Brasil (seperti misalnya FordVolkswagenMercedes-Benz dan lain-lainnya) dan di antara kota-kota yang paling maju industrinya di seluruh negeri. Namun sebelumnya, Lula sudah mengisi berbagai jabatan di serikat buruh yang sama, dan dalam kedudukan itu ia berkunjungkeAmerika Serikat pada awal 1970-an, tepat di tengah-tengah pemerintahan diktatur militer Brasil, untuk menghadiri sebuah kursus kualifikasi dalam pengelolaan serikat buruh, yang disponsori oleh AFL-CIO dan ICFTU-ORIT organisasi regional untuk seluruh benua Amerika dari International Confederation of Free Trade Unions yang anti komunis. Infomrasi ini ditemukan dalam entri "Lula" dalam Dicionario Historico e Biográfico Brasileiroyang layak diandalkan, sebuah buku Apa-Siapa yang sangat lengkap tentang politik Brasil pasca-1930 yang diterbitkan dan dimutakhirkan olehFundação Getúlio Vargas.

Februari 1980, dia mendirikan Partai Buruh (PT: Partido dos Trabalhadores). Meskipun berteman dengan Presiden KubaFidel Castro dan PresidenVenezuelaHugo Chavez, ia tidak memilih ideologi komunis untuk partainya. Ia lebih suka menggabungkan anggota-anggota militan serikat buruh, intelektual, aliran sosialis Trotsky, dan aktivis Teologi Pembebasan dari gereja di dalam partainya. Landasan ini membuat Partai Buruh yang dipimpinnya lebih dikenal sebagai sebuah partai beraliran sosial demokrat yang memiliki kebijakan pragmatis daripada revolusioner.
Tahun 1986, ia terpilih ke Kongres dan mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 1989. Pemilu tahun itu menempatkan Fernando Collor de Mello sebagai presiden. Lula da Silva yang memperoleh 31 juta suara hanya kalah 6% dengan Fernando Collor de Mello pada babak kedua. Langkah ini diulang pada tahun 1994. Ia pun masih kalah dengan Fernando Henrique Cardoso. Baru pada upayanya yang keempat (Oktober 2002), ia memperoleh mandat rakyat. Ia memilih industriawan Jose Alencar dari Partai Liberal sebagai wakil presiden.
Ia memanfaatkan gelombang ketidakpuasan rakyat pada masa ekonomi macet, pengangguran meningkat, dan jurang antara kaya dan miskin yang tetap lebar. Sehingga, ia menjadi presiden kiri pertama yang berasal dari kelas pekerja. Ia tidak menguasai bahasa asing dan mencoba mengenal dunia internasional. Dengan 61% suara yang diperolehnya cukup menegaskan bahwa ia pemimpin yang mampu mencerahkan harapan. Satu hal yang pasti, kandidat Partai Sosial Demokrat (Jose Serra) telah dikalahkan dalam pemilu presiden. Dan, Luiz Inácio Lula da Silva resmi menjabat sebagaiPresiden Brasil sejak 1 Januari 2003.

George Walker Bush (USA)


George Walker Bush (lahir di New HavenConnecticutAmerika Serikat6 Juli 1946; umur 66 tahun) adalah Presiden Amerika Serikat ke-43. Ia dilantik 20 Januari 2001 setelah terpilih lewat pemilu presiden tahun 2000 dan terpilih kembali pada pemilu presiden tahun 2004. Jabatan kepresidenan kedua kalinya berakhir pada 20 Januari 2009. Sebelumnya, ia adalah Gubernur Texas ke-46 (1995-2000). Jabatan ini ditinggalkan sesaat setelah dirinya terpilih sebagai presiden. Ia digantikan oleh Barack Obama.
Dalam sejarahnya, Keluarga Bush adalah bagian dari Partai Republik dan politik Amerika. Bush adalah anak tertua mantan Presiden Amerika Serikat George H. W. Bush. Ibunya adalah Barbara Bush. Kakeknya, Prescott Bush adalah mantan Senator Amerika Serikat dari Connecticut. Sedang, adiknya, Jeb Bush adalah mantan Gubernur Florida. Menyusul Serangan 11 September 2001, Bush mengumumkan Perang melawan terorisme secara menyeluruh. Sepanjang Oktober 2001, dia memerintahkan invasi ke Afganistan untuk melumpuhkan kekuatan Taliban dan al-Qaeda.[1] Pada Maret 2003, Bush memerintahkan penyeranganan ke Irak dengan alasan bahwa Irak telah melanggar Resolusi PBB no. 1441mengenai senjata pemusnah massal dan karenanya harus dilucuti dengan kekerasan.[2] Setelah digulingkannya rezim Saddam Hussein, Bush bertekad memimpin AS untuk menegakkan demokrasi di Timur tengah, yang dimulai dengan Afganistan dan Irak.[3] Namun hingga kini situasi di Irak semakin tidak stabil karena pertikaian yang berkepanjangan antara kelompok Sunni, yang pada masa Saddam Hussein praktis berkuasa atas kelompok mayoritas Syi'ah, yang kini ganti berkuasa.
Bush pertama-tama dipilih pada tahun 2000, dan menjadi presiden keempat dalam sejarah AS yang dipilih tanpa memenangkan suara rakyat setelah18241876, dan 1888. Bush yang menggambarkan dirinya sebagai "presiden perang",[4] terpilih kembali pada 2004[5] setelah kampanye pemilihan yang sengit dan panas. Dalam kampanye ini, keputusannya untuk mengadakan Perang melawan Terorisme dan Perang Irak dijadikan isu sentral. Bush menjadi kandidat pertama yang memperoleh kemenangan mayoritas suara rakyat sejak ayahnya menang 16 tahun sebelumnya.[6] Dalam tiga pemilihan umum sebelumnya, penampilan kandidat partai ketiga yang hebat telah menghalangi pemenang suara rakyat, Gore dan Clinton, untuk memperoleh suara mayoritas rakyat.

Permulaan hidup

George Bush dilahirkan di New HavenConnecticut). Aktivitasnya dalam dunia politik dimulai dari keterlibatannya dalam tim kampanye ayahnya sebagai senator dari Texas.

[sunting]Pendidikan dan keluarga

Bush lulus dari Universitas Yale dengan gelar Bachelor of Arts dalam bidang sejarah pada tahun 1968. Kemudian pada tahun 1975, ia memperoleh gelar Master of Business Administration (MBA) dari Sekolah Bisnis Harvard. Dua tahun kemudian ia menikahi Laura Welch dan memperoleh dua orang anak kembar, Barbara dan Jenna pada tahun 1981.

[sunting]Karier bisnis

Ia mengawali karier dalam dunia usaha pada tahun 1979 dengan mendirikan Arbusto Energy, sebuah perusahaan pengeboran minyak dan gas. Arbusto dijualnya pada tahun 1984 kepada Spectrum 7, perusahaan minyak lainnya dan diubah namanya menjadi Bush Exploration Co.. Bush sendiri menjadi CEO perusahaan baru tersebut. Kemudian pada tahun 1986, Spectrum 7 melakukan merger dengan Harken Energy, dan Bush menjadi direktur Harken.
Pada April 1989, Bush dan beberapa rekan investor lain membeli 86% saham klub bisbol AS, Texas Rangers dengan pinjaman sebesar US$500.000 dari bank. Pinjaman tersebut dibayarnya dengan menjual sahamnya sebesar $848.000 di Harken. Hal ini memicu kerugian yang besar di Harken, dalam peristiwa yang dikenal dengan nama "Skandal Harken."

[sunting]Presiden Amerika Serikat

Bush merupakan orang kedua menjadi presiden yang mengikuti jejak ayahnya George H. W. Bush, Presiden Amerika Serikat yang ke-41, setelah John Adams, Presiden kedua, dan John Quincy Adams, yang keenam, merupakan bapak dan anak. Terdapat juga pasangan kakek dan cucu, William Henry Harrison dan Benjamin Harrison.

[sunting]Masa jabatan pertama


Bush sebagai "Tokoh Tahun 2004" versi TIME
Masa jabatannya sebagai presiden didominasi "perang melawan terorisme", yang mencuat setelah terjadinya Peristiwa 9/11 (serangan terhadap WTC). Serangan tersebut dijadikannya alasan untuk memerintahkan invasi terhadap Afganistan pada tahun 2001 untuk membebaskan Afganistan dari rezim Talibandan Irak pada tahun 2003 untuk menjatuhkan pemerintah Saddam Hussein. Bush menyatakan kemenangan AS dalam invasi Irak pada 1 Mei 2003, namun hingga Agustus 2006 konflik di Irak masih belum berakhir akibat serangan-serangan dari para pemberontak.

[sunting]Masa jabatan kedua

Meskipun banyak pihak yang menentang kedua peristiwa tersebut (khususnya dari luar AS), ia memenangkan Pemilu Presiden Amerika 2004 dengan selisih 3% dengan saingan utamanya John Kerry. Masa jabatan keduanya masih dipenuhi masalah di Irak, karena korban dari pasukan AS terus berjatuhan, mencapai lebih dari 2.500 orang hingga 3 Agustus 2006.
Peristiwa penting lain pada masa jabatan kedua ini adalah Badai Katrina pada Agustus 2005. Bush dianggap lambat dalam menangani peristiwa ini, yang memakan korban ribuan jiwa. Kejadian ini juga memperlihatkan jurang ekonomi yang jelas antara kaum kulit putih dan kulit hitam di Amerika. Dalam acara penandatanganan peraturan bioetik alternatif yang dihadiri 18 keluarga dengan 20-an batita yang lahir dari embrio sumbangan sisa dari prosedur fertilisasi in vitro, untuk pertama kalinya ia menggunakan hak vetonya untuk menghalangi RUU pengembangan riset sel induk embrionik.
Jabatan Kepala Staf Gedung Putih dipegang oleh Joshua B. Bolten dan Wakil Kepala Stafnya dijabat oleh Karl Rove.